Ini 5 Hari Raya Suci Agama Hindu, Berikut Penjelasannya

Ini 5 Hari Raya Suci Agama Hindu, Berikut Penjelasannya


Sanatana Info - Ada banyak perayaan atau hari raya dalam Agama Hindu. Setidaknya kamu harus tahu lima saja hari raya suci Agama Hindu.


Mulai dari Hari Raya Purname dan TilemGalungan dan Kuningan, Siwalatri, Saraswati dan Hari Raya Nyepi. Yuk baca ulasannya !


Hari suci dalam Agama Hindu


Tiap hari kita berinteraksi dengan Tuhan, mulai saat matahari belum terbit sampai menjelang matahari terbenam. 


Pelaksanaan sembahyang dalam Agama Hindu dilakukan pada pagi hari, siang hari, dan menjelang petang. Persembahyangan ini disebut dengan Tri Sandya. 


Tri Sandya ini merupakan tiga kali berhubungan aturan sembahyang yang dilakukan oleh umat pemeluk Agama Hindu terkhususnya orang Bali.


Nah, hari-hari lain, yang juga dilaksanakan dan sudah terjadwal dalam kalender Agama Hindu, seperti misalnya perayaan hari raya suci galungan, kuningan, saraswati, dan lainnya. 


Itulah baru beberapa saja hari raya suci yang dilaksanakan pada hari-hari tertentu yang sudah ada jadwalnya. 


Pertanyaan yang sering muncul dalam lingkungan diluar Bali atau orang yang merantau, misalnya pertanyaan tentang kapan yah kamu melakukan persembahyangan.


Atau pelaksanaan ibadah pada hari tertentu, kalau dilihat apakah pada hari minggu saja kamu melaksanakan peribadahan atau ada hari-hari lainnya ?


Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang sering ditanya sama teman, atau orang yang menganut agama lain. 

Nah, dalam masyarakat kota, memang pada hari minggu atau hari libur lah waktu yang tepat untuk mereka berkumpul bersama dengan umat Hindu.


Biasanya mereka berkumpul di Pura, atau pada acara lain seperti melaksanakan arisan, doa bersama dan sejenisnya. 

Ya, memang terkadang, dikira sama teman kita atau orang lain yang enggan untuk bertanya, hanya pada hari minggu saja kita melaksanakan peribadahan. 


Itulah yang sering saya jumpai, sehingga kita juga menjelaskan singkat mengenai peribadahan kita sebagai Umat Pemeluk Agama Hindu di Indonesia.


Penjelasan saya, sederhana saja, "Untuk ibadah atau sembahyang, kita yang tiap hari itu di pagi hari, siang hari, dan menjelang petang. 


Dan untuk persembahyangan dengan jadwal yang sudah ditetapkan dalam kalender Agama Hindu, seperti persembahyangan Hari Raya Tilem, Purname, terus ada juga Hari Raya Siwalatri, Saraswati, dan hari raya lainnya yang sudah terjadwal."


Begitulah penjelasan-penjelasan singkat yang saya sampaikan kepada teman-teman saya yang bertanya kepada saya. 


Untuk lebih jelasnya, beberapa hari raya suci dalam Agama Hindu yang dilakukan persembahyangan bersama yang sudah terjadwal yaitu sebagai berikut :


Pertama, Hari Raya Rahinan Purnama dan Tilem


Persembahyangan pada hari raya Purnama dan Tilem jatuh pada setiap 29 atau 30 hari sekali. Dalam satu bulan dua kali melaksanakan persembahyangan yaitu Hari raya Purname dan Tilem.


Dalam satu tahun umat Hindu melaksanakan persembahyangan Tilem 12 kali dan Purnama 12 kali. Pelaksanaan hari raya ini dengan tujuan untuk melaksanakan pembersihan atau peleburan bathin. 


Oleh karena itu, kita melaksanakan persembahyangan tilem dan purnama untuk memohon anugerah, rahmat, kesejahteraan dan kebahagian lahir bathin kita sebagai manusia.


Dalam Slokantara disebutkan bahwa, "Bila pada hari purnama dan tilem umat manusia menghaturkan upakara yadnya dan persembahyangan kehadapan Hyang Widhi, dari nilai satu aturan bhakti yang dipersembahkan itu akan mendapatkan imbalan anugerah sepuluh dari Hyang Widhi".


Sementara itu, dalam Sundarigama disebutkan bahwa, "Ada hari-hari yang utama penyelenggaraan upacara persembahyangan yang sejak dahulu sama nilai keutamaannya, yaitu pada hari Puranama dan Tilem. 


Pada hari Purnama bertepatan dengan Sanghyang Candra beryoga dan pada hari Tilem, bertepatan dengan saat Sanghyang Surya beryoga memohon keselamatan dunia kehadapan Hyang Widhi Wasa.


Pada hari suci yang demikian itu sudah seyogyanya para rohaniawan dan semua umat manusia menyucikan dirinya lahir bathin.


Dengan melakukan upacara persembahyangan di Sanggar-sanggar atau Parhyangan dan menghaturkan yadnya kepada Hyang Widhi (Tuhan)".


Nah, itulah hari raya suci Purnama dan Tilem dalam Agama Hindu yang dilaksanakan setiap 29 atau 30 hari sekali. Dan itu sudah terjadwal menurut kalender Agama Hindu. (Baca Juga : Purnama dan Tilem) 


Kedua, Hari Raya Suci Galungan dan Kuningan


Merayakan kemenangan antara dharma melawan adharma, yaitu kebenaran/kebaikan lah yang menang melawan kejahatan. 


Secara filosofi atau makna dalam pelaksanaan hari raya Galungan yaitu agar manusia dapat membedakan yang mana kebenaran/kebaikan dan yang mana kejahatan di dunia ini.


Setiap manusia mempunyai dorongan yang kuat, baik dorongan kebaikan atau kejahatan, semuanya sama-sama ada di dalam jiwa manusia. 


Oleh karena itulah, kita harus bisa menguasai lebih banyak kebenaran dan kebaikan itu, melalu akal budhi yang bersih.


Nah, dalam pelaksanaannya, hari raya Galungan yang jatuh setiap 210 hari sekali yang jatuh pada Budha Kliwon wuku Dunggulan. 


"Buda (rabu) Kliwon Galungan adalah yang mengarahkan bersatunya pikiran agar menjadi terang dan berkesadaran tinggi, untuk melenyapkan penyebab kekacauan pikiran."(Sundarigama).


Dari sekilas filosofis diatas, bahwa perayaan hari raya Galungan ini mempunyai harapan agar manusia dapat menyatukan kekuatan rohaninya, sehingga manusia mendapatkan sebuah pendirian yang mantap, serta pikiran yang baik sesuai dengan ajaran dharma untuk menguasai penuh kebaikan atau kebenaran.


Sementara, hari Raya Kuningan yang sering disebut dengan Tumpek Kuningan, dimana jatuh pada 10 hari setelah hari raya Galungan, atau pada hari Sabtu, Kliwon wuku Kuningan. 


Pada hari raya Kuningan, umat Hindu melaksanakan persembahyangan untuk pemujaan kepada para dewa, pitara, dan memohon keselamatan, perlindungan, serta kelancaran lahir-bathin. 


Hari raya Kuningan juga diyakini sebagai waktunya para dewa, bhatara, datang ke bumi yang diiringi oleh pitara, yang mana hanya terjadi sampai siang hari saja.


Oleh karena itu, pelaksanaan persembahyangan biasanya dilakukan pada pagi hari saja atau sampai menjelang siang harinya.


Nah, itulah ringkasan bagaimana hari raya Galungan dan Kuningan dalam hari suci Agama Hindu yang dilaksanakan setiap 210 hari. 


Ketiga, Hari Raya Suci Saraswati


Sebagai rasa hormat dan cinta kasih kepada Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewi Saraswati umat Hindu melaksanakan upacara atau persembahyangan kepada Dewi Saraswati. 


Hari raya turunnya ilmu pengetahuan, kesucian, yang dilambangkan oleh Dewi Saraswati. Dalam manifestasi-Nya sebagai Dewi, kekuatannya dalam memberikan umat manusia ilmu pengetahuan dan menciptakan kekuatan-kekuatan dalam hal ilmu suci lainnya.


Perayaan persembahyangan hari raya Saraswati jatuh pada hari Sabtu Umanis Wuku Watugunung, yang mana jatuh setiap 210 hari sekali. 


Perayaan persembahyangannya bisa dilakukan pada pagi hari, dengan mensucikan buku-buku pengetahuan, atau menyesuaikan tempat beribadah umat Hindu tersebut.


Dewi Saraswati adalah saktinya Dewa Brahma (manifestasi Tuhan sebagai pencipta). Dewi Saraswati adalah sosok dewi yang mempunyai kekuatan luar biasa dalam ilmu pengetahuan. 


Oleh karena itulah, kita sebagai manusia patut bersyukur dan menghormati setiap ciptaan yang ada, karena itu hasil daripada ilmu pengetahuan yang dibuat oleh manusia.


Untuk itulah mari sama-sama kita menjaga dan melestarikan ilmu pengetahuan yang sudah diberikan kepada manusia, dengan cara itulah kita menghaturkan bhakti kepada Dewi Saraswati karena berkat rahmat-Nya lah kita dapat memperoleh ilmu pengetahuan yang abadi. (Baca Juga : Saraswati)


Keempat, Hari Raya Suci Siwalatri


Perayaan hari raya Siwalatri ini adalah untuk melakasanakan malam renungan suci, yang jatuh pada Purwaning Tilem ke Pitu (Tujuh), yakni sehari sebelum bulan mati.


Dalam melakukan renungan suci, semalam suntuk atau biasa disebut dengan mejagre (pejagraan). Semalam suntuk melaksanakan samadhi, yoga, dengan tujuan meleburkan dosa-dosa yang sudah pernah kita lakukan.


Malam renungan suci ini kita melakukan pemujaan kepada Tuhan sebagai manifestasi Dewa Siwa, yang mana Dewa Siwa sebagai pelebur. 


Nah, pada malam ini juga, sebagai renungan suci pelaksanaan hari raya Siwalatri dapat dilakukan dengan melaksanakan Brata Siwalatri.


Pada hari raya ini juga, manusia mendapatkan kesempatan untuk meleburkan dosa-dosa atau perbuatan buruknya selama ini.


Dalam kitab Padma Purana, bahwa sesungguhnya malam Siwalatri adalah malam peleburan dosa, yaitu peleburan dosa yang dilakukan seseorang semasa hidupnya. 


Demikian juga dalam lontar Lubdhaka, dinyatakan bahwa sungguh pun orang itu sangat berdosa, bahkan yang paling berdosa sekalipun.


Masih mendapatkan kesempatan untuk melebur dosanya, jika dia merayakan dan melaksanakan Brata Siwalatri.


Ada tiga poin penting dalam pelaksanaan brata Siwalatri, yaitu berpuasa sepanjang 24 jam, tidak boleh tidur (pantang untuk tidur), dan melaksanakan pemujaan kepada Tuhan (Dewa Siwa). 


Oleh karena itu, dalam melaksanakan brata Siwalatri, manusia harus bisa menahan godaan dari diri sendiri, dalam hal ini untuk dapat melaksanakan poin brata Siwalatri dengan sungguh-sungguh, dan niat yang tulus kehadapan Tuhan (dalam manifestasinya sebagai Dewa Siwa).


Nah, itulah tadi bagaimana secara ringkas pelaksanaan hari raya Siwalatri yang mana sebagai hari raya suci dalam Agama Hindu. (Baca Juga : Siwalatri)


Kelima, Hari Raya Suci Nyepi


Perayaan hari raya Nyepi dilaksanakan setiap satu tahun sekali dengan pergantian tahun caka dalam kalender Bali. Nyepi itu berasal dari kata sepi yang artinya sunyi, senyap, lengang, tidak ada aktivitas kegiatan apapun, (tanpa terkecuali di rumah sakit). 


Perayaan hari raya Nyepi adalah tahun baru Hindu yang berdasarkan penanggalan kalender Saka, yang dimulai sejak tahun 78 masehi.


Rangkaian pelaksanaan hari raya Nyepi ini dimulai dari melis, atau melasti, atau juga disebut dengan mekiis. Melasti ini bertujuan untuk melaksanakan pembersihan baik secara bhuna alit dan bhuana agung.


Kemudian dilanjutkan dengan upacara bhuta yadnya atau tawur/mecaru. Yang bertujuan untuk menghilangkan unsur-unsur kejahatan yang merusak kesejahteraan umat manusia. Atau dengan simbol membuat ogoh-ogoh yang diarak keliling desa. 


Selanjutnya, pada keesokan harinya pas hari H (pelaksanaan hari raya Nyepi) dilakukanlah Sipeng. Disinilah umat melaksanakan Catur Brata Penyepian yang terdiri dari : 

1. Amati geni (tidak boleh menyalakan api/nafsu-nafsu manusia yang bersifat buruh)

2. Amati karya (tidak boleh ada aktivitas bekerja), 

3. Amati lelungan (tidak boleh berpergian), dan 

4. Amati lelanguan (tidak boleh berpesta, berhura-hura, yang mengarah kepada pemuasan nafsu manusia itu sendiri).


Nah, pada keesok harinya, setelah 24 jam melaksanakan Catur Brata Penyepian dalam rangka menyambut hari raya Nyepi, kita akan melaksanakan Ngambak Gni (Api), yaitu aktivitas yang kita mulai dengan melakukan persembahyangan di Pura (masing-masing desa).


Dengan memohon anugerah, kecerdasan, rejeki, dan memohon petunjuk kejalan yang lebih baik atau jalan dharma agar tidak lalai dalam menjalankan ajaran dharma (kebenaran/kebaikan). 


Setelah persembahyangan selesai, kita melakukan maaf-maafan kepada umat yang hadir dalam persembahyangan atau nanti bisa berkunjung ke rumah-rumah untuk bermaaf-maafan dengan tetangga sekitarnya.


Nah, itulah tadi hari raya suci yang kelima yaitu Nyepi. Yang mana pelaksanaan Nyepi dilaksanakan setiap satu tahun sekali dengan pergantian tahun baru caka dalam kalender Bali. 


Sudah tahu ya sekarang, itulah Lima hari raya suci yang mesti kita ketahui sebagai tambahan informasi, supaya kita dapat menghormati satu sama lainnya. Dalam hal ini pelaksanaan beribadahan umat yang beragama di Indonesia. 


Keterangan Foto : Tempat Ibadah (Pura) Umat Hindu di Kota Pekanbaru, yaitu Pura Agung Jagatnatha Pekanbaru, Jalan Rawa Mulya. (Sumber Foto : Sanatana Info)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama