Versi (1) : Kelahiran Dewa Ganesha, Begini Kisahnya

Versi (1) : Kelahiran Dewa Ganesha, Begini Kisahnya


Sanatana Info - Bhatara Ganesha. Ada banyak versi yang muncul dalam kelahiran atau banyak versi yang menarasikan kemuncualan Dewa Ganesha.


Kali ini saya akan mencoba menyampaikan cerita kemunculan Sang Hyang Ganesha dalam versi pertama narasi kemunculan Beliau. 


Kakawin Smaradahana


Pertama, dalam kakawin Smaradahana. Kakawin ini sebenarnya adalah gubahan yang cukup aneh, jika dibandingkan dengan kitab Siva Purana (Bibek dan Dipavali, 2001).


Maka akan tampak kisah Sang Hyang Kama yang sedikit berbeda tujuan dengan yang dinyatakan oleh Kakawin Smaradahana. 


Dalam kitab Siva Purana, Bhatara Siwa memang hendak pertemukan dengan Dewi Parwati. Dengan tujuan agar Surga Loka terbebas dari ancaman raksasa yang bernama Tarakasura. 


Namun, ceritanya berbeda pada Kakawin Smaradahana, raksasa yang muncul bernama Nilarudraka. Apakah ini hanya sebuah pola perubahan tokoh dengan menampilkan nama lain tokoh tersebut. 


Jika demikian, maka akhir dari cerita ini akan berbeda dengan versi aslinya, sebab Putra Bhatara Siwa yang terlahir karena campur tangan Bhatara Kama.


Bhatara Kama adalah bernama Sang Hyang Kartikeya dan dalam kitab Kakawin Smaradahana jelas-jelas yang dinyatakan adalah Sang Hyang Ganesha.


Ceritanya, tersebutlah seorang raksasa bernama Nilarudraka, yang merebut Surga Loka tempat bersemayamnya para Dewata. 


Raksasa ini hanya bisa dikalahkan oleh putra dari Bhatara Siwa, maka tidak ada satupun Dewata dan mahluk surgawi lainnya yang mampu menandingi kesaktiannya.


Kejadian ini semakin bertambah parah, ketika saat itu Bhatara Siwa belum di dampingi oleh Sakti Beliau, yakni Dewi Parwati. 


Putra Bhatara Siwa pun belum lahir karena Dewi Parwati belum dipertemukan dengan Dewa Siwa.


Oleh sebab itu, para Dewata Kemudian, membuat sebuah rencana untuk mempertemukan Sang Hyang Siwa dengan Dewi Parwati, putri dari Maharaja Himawan.


Namun, usaha itu gagal, sebab Dewa Siwa tengah sibuk berhmeditasi dan terlalu hanyut dalam tapa yang sangat dalam. 


Bantuan Dewa Kama (Asmara) untuk membuat hati Dewa Siwa jatuh cinta pada Dewi Uma (Parwati).
Ketika Dewa Siwa tengah bertapa di Gunung Himalaya, maka Sang Hyang Kama bersembunyi dibalik semak belukar. 


Kemudian, dengan cekatan Beliau membidikkan panah cinta kepada Sang Hyang Siwa yang tengah bersemadi.


Hasilnya, panah itu tepat mengenai hati Sang Hyang Siwa, dan ketiika panah itu menancap, maka datang Dewi Parwati ke tempat itu, akhirnya Sang Hyang Siwa jatuh hati kepada Dewi Uma (Parwati).


Namun, Dewa Siwa merasakan kehadiran Bhatara Kama dan beliau menilai bahwa Dewa Kama sudah mengganggu samadhi-Nya. 


Mata ketiga Beliau (Dewa Siwa) terbuka dan keluarlah nyala api yang sangat besar dari sana. 


Secepat kilat membakar Bhatara Kama hingga menjadi abu. Setelah mengetahui kejadian itu, para Dewata meminta maaf atas segala tindak tanduk mereka kepada Sang Hyang Siwa. 


Kemudian, Bhatara Siwa berjanji untuk menghidupkan Sang Hyang Kama. Namun, dalam wujud yang berbeda, yakni akan lahir dalam dinasti Wrsni.


Karena Sang Hyang Siwa sudah bertemu dengan Dewi Parwati, maka upacara pernikahan dilakukan. Dari hasil pernikahan itu, lahirlah Bhatara Ganesha. 


Ketika, para Dewata datang untuk menjenguk Sang Dewi, maka ikut sertalah Sang Hyang Indra dengan menunggai gajah Airavata kesayangannya. 


Terkejut hati Sang Dewi melihat gajah besar tersebut, dan hasilnya putra Beliau adalah Dewata berkepala gajah yang bernama Sang Hyang Ganesha. 


Sang Hyang Ganesha inilah yang kemudian bertemput melawan raksasa Nilarudraka. Dan berhasil membunuh raksasa itu dengan gading gajah Beliau. 


Akhirnya surga loka kembali dapat disemayami oleh para Dewata. Nampaknya, kakawin ini dibuat untuk menyanjung raja Kediri yang bernama Sri Maharaja Kameswara. 


Kemudian, secara sengaja digubah dari kitab Siva Purana. Adapun raja itu menurut catatan sejarah bertahta kira-kira tahun 1037 hingga 1052 saka atau 1115 - 1130 tahun masehi.


Namun, para ahli mengatakan, bahwa yang dimaksud dengan raja Kameswara adalah Maharaja Kameswara II yang memerintah tahun 1108 saka atau 1185 masehi.


Namun, terlepas dari fakta tersebut, narasi ini sengaja kami tulis guna untuk memberikan informasi yang lebih lengkap tentang bagaimana narasi Sang Hyang Ganesha di tanah nusantara. 


Yang paling mendasar tujuan kelahiran Beliau adalah bahwa ada seorang raksasa bernama Nilarudraka, dan dengan kelahiran Sang Hyang Ganesha diharapkan sebagai pemusnah raksasa Nilarudraka tersebut.


Dengan demikian, di tanah nusantara kelahiran Ganesha merupakan satu bentuk icongrafi Hindu sebagai pemusnah kejahatan. Memusnahkan segala macam rintangan dan marabahaya. 


Hampir diseluruh rumah di Bali memiliki arca Dewa Ganesha dan dipuja sebagai Dewa penyelamat hidup dan penjaga pintu gerbang. 


Ini tidak merupakan satu hal yang menjadi hal baru, sebab pemujaan terhadap Dewa Ganesha sudah ada sejak zaman dahulu. 


Terbukti dengan terdapatnya arca pemujaan terhadap Dewa Ganesha yang terdapat di Pura Goa Gajah, Gianyar dan Pura Ponjok Batu, Singaraja. Setiap aspek keyakinan Siwasiddhanta, maka pemujaan terhadap Dewa Ganesha tetap senantiasa ada.


Bahkan merupakan sebuah keseharusan dimana seorang pemuja Bhatara Siwa maka ia harus melakukan sebuah pemujaan terhadap Dewa Ganesha. Dengan tujuan, agar apapun yang dilakukan berhasil dengan baik. 


Sumber Referensi : Sang Hyang Ganesha oleh Gede Agus Budi Adnyana, S.Pd.B

Sumber Foto : Mantarhindu.com

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama