12 Ajaran Cubha Karma (Perbuatan Baik) dalam Agama Hindu, Ini Penjelasannya

12 Ajaran Cubha Karma (Perbuatan Baik) dalam Agama Hindu, Ini Penjelasannya


Sanatana Info - Perbuatan baik dan perbuatan yang tidak baik selalu menghiasi kehidupan manusia. Perbuatan baik dalam ajaran Agama Hindu disebut dengan Cubhakarma. 


Lalu, apa saja penjabaran dari perbuatan baik dalam ajaran Agama Hindu ? Yuk simak penjelasannya. 


Lahir Sebagai Manusia Menjadi Keberuntungan


Kita lahir sebagai manusia sudah sangat beruntung, karena diberikan daya pikir yang bagus oleh Tuhan. Bila kita lihat dengan mahluk-mahluk yang lahir, seperti tumbuhan, hewan, yang kelahiran mereka tidaklah sempurna. 


Manusia lahir sebagai mahluk yang sempurna di dunia. Menurut ajaran Agama Hindu, Manusia dianugerahi Tiga kekuatan mahluk hidup yang meliputi : bayu (kekuatan bernafas), sabda (kekuatan bersuara) dan idep (kekuatan berpikir). 


Tiga kekuatan itu termasuk dalam bagian dari Tri Pramana yang artinya tiga kekuatan hidup untuk dapat mengetahui dan menyakinkan sebuah pengetahuan atau sesuatu hal lainnya. 


Tri Pramana mengenai pengertian bayu, sabda, dan idep, merupakan Tri Pramana dalam Bhuwana Alit, yaitu sebagai mahluk hidup yang mempunyai kekuatan manacikapura.  


Sementara, untuk hewan hanya dianugerahi Dwi Pramana, yaitu hanya sabda (kekuatan bersuara) dan bayu (kekuatan bernafas) saja.


Perihal perbutan yang baik atau tidak baik yang dilakukan oleh manusia di dunia ini adalah bagian dari proses hidup manusia dalam mencapai Moksa (tujuan hidup tertinggi umat Hindu), yaitu menunggalnya atman dengan pencipta atau brahman itu sendiri.


Nah, dari beberapa banyak pertanyaan yang selalu saya ingat, ketika kawan-kawan saya menanyakan tentang, "Wayan, dalam Agama Hindu ada gak perbuatan yang baik, dan perbuatan yang tidak baik ?," tanya kawan saya.


Terpintas, saya berpikir, "Ya, namanya juga manusia pasti pernah berbuat baik dan tidak baik, dalam nafsu pun tidak terkadang bisa berbuat tidak baik, misalnya melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan kita," jawabnya sesuai dengan apa yang pernah saya baca dan saya dengar.


Pertanyaan ini memang sudah lama, sewaktu saya masih sekolah (SMA) di Palembang, itulah manusia yang dianugerahi daya untuk kekuatan berpikir (idep), yang masih saya ingat. 


Lalu, saya mencoba untuk mencari jawaban yang relevan dengan pertanyaan itu, karena sering juga saya mendapatkan pertanyaan yang sama. 


Nah, pada kesempatan kali ini saya coba membaca beberapa sumber dari buku yang menjadi pedoman saya untuk menulis artikel ini dengan singkat.


Perbuatan Baik dalam Agama Hindu


Ada 12 penjelasan dalam pelaksanaan Cubhakarma (perbuatan baik) yang bisa kita laksanakan sebagai umat Hindu, meliputi Tri Kaya Parisudha, Catur Paramitha.


Selanjutnya, Panca Yama Bratha, Panca Nyama Bratha, Sad Paramita, Catur Aiswarya, Asta Siddhi, Nawa Sangga, Dasa Yama Bratha, Dasa Nyama Bratha, Dasa Dharma, dan Dasa Paramartha.


Saya pun kaget membaca ini, rupanya banyak juga yah. Maklumlah saya kurang banyak membaca, hanya mengingat-ingat yang penting saja, seperti misalnya Tri Kaye Parisudha, tentang bagaimana kita dapat mengendalikan Pikiran, Perkataan dan Perbuatan kita sebagai manusia. 


Terkadang juga lalai dalam menjalankan perbuatan baik itu, seperti ya masih kadang berkata yang kurang baik, dan atau berpikir yang tidak baik sama orang dan sejenisnya.


Nah, pada artikel ini kita akan membahas secara ringkas hanya 4 penjabaran dari perbuatan yang ada pada  Acubhakarma (perbuatan baik), sebagai berikut :


Pertama, Tri Kaye Parisudha


Pengertiannya adalah tiga perilaku atau perbuatan manusia yang kita sucikan, yaitu manacika (berpikir yang baik, bersih, dan suci), wacika (berkata yang benar), dan kayika (berbuat yang jujur). 


Ketiga ini saling berkaitan, kita sebagai manusia, seyogyanya dapat berperilaku yang baik, bersih, suci kepada semua mahluk. Karena dengan berpikir yang baik, kita akan dapat mengendalikan perkataan kita. 


Kata-kata yang terlontar dari mulut kita, jika tidak dikendalikan, maka akan melukai orang lain, misalnya kita berkata yang kotor, mencaci orang, maka dengan perkataan itu juga kita melukai orang lain. 


Kemudian, ini akan berlanjut, pada perbuatan kita. Jika, pikiran kita sudah tidak suci, akan mengarah pada perkataan kita yang kotor, kasar, dan mencaci orang lain. Tanpa kita sadari, itu semua akan menghasilkan perbuatan yang tidak jujur. 


Oleh karena itu, sebagai manusia yang lahir mempunyai tiga kekutan tertinggi dan mulia (idep, sabda, dan bayu), marilah kita belajar perlahan-lahan dalam mengendalikan perbuatan kita agar mengarah pada yang baik-baik saja. 


Kedua, Catur Paramitha


Pengertiannya adalah empat bentuk budi luhur, yaitu maitri (lemah lembut), karuna (belas kasih / kasih sayang), mudita (sifat dan sikap menyenangkan orang lain), dan upeksa (sifat dan sikap menghargai orang lain).


Dalam melaksanakan perbuatan baik kepada orang, memang terkadang  kita susah untuk melakukannya, masih ragu-ragu dan terkadang kita melihat timbal balik dari apa yang kita lakukan tersebut.


Apakah membuat kita untung atau rugi. Sebagai manusia yang lahir untuk menjalankan ajaran Veda, ajaran kebenaran (dharma) mari sama-sama kita saling belajar dan mengingatkan sesama manusia.


Sifat-sifat yang diajarkan dalam catur paramitha bisa memberikan kita sebuah pelajaran baru, tentang bagaimana kita bersikap sesuai dengan budi luhur kita sebagai sesama manusia. 


Sama-sama memberikan sifat-sifat lemah lembut, memberikan sifat kasih sayang kepada sesama manusia, sifat-sifat dan sikap yang dapat menyenangkan orang lain, (tidak mesti dalam bentuk material), dan sifat yang menghargai orang lain.


Langkah-langkah dalam menjalankan budi luhur kita sebagai manusia, bisa kita lakukan dengan menolong orang lain yang sedang tertimpa musibah, yang membutuh bantuan kita. 


Misalnya, hal kecil dalam menolong orang tua yang pas menyebarang jalan, kita bantu untuk menyebarang jalan itu. 


Dari hal kecil itu saja, kita sudah dapat menjalankan ajaran Cubhakarma (perbuatan baik), dan dalam ajaran Catur Paramitha, kita dapat memberikan sikap kasih sayang kita, sifat dapat menyenangkan orang lain. 


Itulah contoh mudah yang bisa kita lakukan dalam keseharian kita, dan atau masih ada banyak contoh-contoh yang mungkin sudah kita lakukan pada orang lain.


Oleh karena itu, bertahankan perbuatan baik kita kepada orang lain dan sesama manusia, bila perlu kita tingkatkan ajaran Dharma untuk orang-orang lainnya.


Ketiga, Sad Paramita


Pengertiannya adalah enam jalan keutamaan untuk menuju keluhuran. Keenam jalan itu meliputi :

-Dana paramita (memberi dana atau sedekah baik berupa materiil maupun spiritual)

-Sila paramita (berpikir, berkata, dan berbuat yang baik, suci dan luhur)

-Ksanti paramita (pikiran tenang, tahan terhadap penghinaan dan segala penyebab sakit, terhadap orang dengki atau perbuatan tak benar dan kata-kata yang tidak baik)

-Wirya paramita (pikiran, kata-kata dan perbuatan yang teguh, tetap dan tidak berobah, tidak mengeluh terhadap apa yang dihadapi. Keteguhan pikiran (hati), kata-kata dan perbuatan  untuk membela dan melaksanakan kebenaran)

-Dhyana paramita (niat mempersatukan pikiran untuk menelaah dan mencari jawaban atas kebenaran.  Bisa juga dalam pemusatan pikiran, kepada Tuhan (Hyang Widhi) dan cita-cita luhur untuk keselamatan)

-Pradnva paramita (kebijaksanaan dalam menimbang suatu kebenaran).


Enam jalan yang bisa manusia lakukan untuk dapat mencapai keluhuran jiwa dan raga manusia itu sendiri. Dalam penerapannya sehari-hari bisa kita lakukan, ketika kita mendapatkan informasi yang belum kita ketahui kebenarannya. 


Kita dapat mencari kebenaran itu, menyaring informasi-informasi yang belum tentu kebenarannya. Dan atau dalam hal memberikan dana, yang tidak mesti secara materil, kita bisa memberikan dalam bentuk pengalam spiritual kita kepada manusia. Dengan demikian, kita sebagai manusia dapat menuju keutamaan untuk menuju keluhuran tersebut. 


Keempat, Catur Aiswarya


Pengertiannya adalah suatu ajaran kerohanian yang memberikan kebahagiaan hidup lahir batin terhadap mahluk. Catur aiswarya ini terdiri dari dharma, jnana, wairagya, dan aiswarya, penjelasannya sebagai berikut :

-Dharma adalah segala perbuatan yang selalu berdasarkan atas kebenaran

-Jnana adalah pengetahuan atau kebijaksanaan lahir bathin yang berguna demi kehidupan seluruh manusia

-Wairagya adalah tidak ingin terhadap kemegahan duniawi, seperti hal gila jabatan atau hal lainnya

-Aiswarya adalah kebahagian dan kesejahteraan yang didapatkan dengan cara atau jalan yang baik sesuai dengan hukum dan ketentuan agama atau sesuai dengan hukum adat istiadat dalam masyarakat tersebut.


Nah, itulah penjelasan singkat saya mengenai perbuatan baik atau cubhakarma yang terdiri dari penjabaran 12 perbuatan baik, yang mana saya hanya menjelaskan 4 saja dari 12 penjabaran cubhakarma.


Keterangan Foto : Saat Peradah Riau melakukan pembagian masker kepada masyarakat di Kota Pekanbaru. (Sumber Foto : Sanatana Info)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama