Apa Itu Tirta Yatra ? Berikut Manfaat, Tujuan, dan Alasan Mengunjungi Tempat Suci (Pura)

Apa Itu Tirta Yatra ? Berikut  Manfaat, Tujuan, dan Alasan Mengunjungi Tempat Suci (Pura)


Sanatana Info - Apa yang kamu ketahui tentang Tirta Yatra ? Nah perjalanan suci yang dilakukan oleh umat Hindu yaitu dengan mengunjungi pura, atau tempat suci lainnya. 


Tirta Yatra dapat juga memberikan manfaat dan tujuan yang dapat memberikan refleksi terhadap perjalanan suci atau perjalanan spiritual. 


Reikarnasi menjadi manusia adalah sebuah kesempatan dalam memperbaiki dharma atau karmaphala kita pada masa terdahulu. 


Karmaphala, karma yang artinya perbuatan sedangkan phala adalah buah. Disimpulkan bahwa, karmaphala merupakan hasil perbuatan yang baik atau tidak baik, yang disadari ataupun yang tidak kita sadari, semuanya adalah karmaphala.


Slokantara 68 : artinya : karma phala artinya akibat (phala), dari buruk (suatu) perbuatan (karma). Subha asubha karma (subhasubha prawrtti)


Karmaphala terbagi atas tiga jenis bagian :


Sancita


Sancita karma phala : perbuatan pada masa kehidupan terdahulu seseorang yang belum habis di nikmati, dan masih merupakan benih-benih yang dapat menentukan kehidupan pada masa sekarang.


Prarabda


Prarabda karma phala : perbuatan pada masa kehidupan sekarang dan perbuatan itu akan diterima pada kehidupan sekarang juga, tanpa harus menunggu kehidupan yang akan datang. 


Kriyamana


Kriyamana karma phala : perbuatan ini tidak bisa kita nikmati pada kehidupan kita sekarang, melainkan perbuatan yang akan kita terima pada kehidupan masa mendatang. Dan diterima pada kelahiran berikutnya.


Segala macam perbutan yang telah kita lakukan pada masa kehidupan kita adalah sebuah hasil sebab akibat yang akan kita dapat pada masa sekarang, mendatang, dan yang terdahulu.


Bagian dari pada Panca Sradha : lima keyakinan umat Hindu, yaitu percaya adanya Brahma (Ida Sang Hyang Widhi Wase/Tuhan Yang Maha Esa).


Percaya adanya Atman (percikan terkecil dari Tuhan), percaya adanya Hukum Karmaphala, percaya adanya Reikarnasi/Punarbawa, percaya adanya Moksa.


Dalam perjalanan sang Atman, lahir kembali sebagai manusia adalah jembatan atau langkah awal dalam mencapai Moksa, seperti tujuan utama dalam hidup agama Hindu yakni Mosartham Jagadhita Ya Ca Iti Dharma. 


Artinya : Bahwa agama (dharma) bertujuan untuk mencapai kebahagian rohani dan kesejahteran hidup jasmani atau kebahagian secara lahri dan bathin (moksa).


Perjanalan dalam menuju Moksa pun bisa kita laksanakan dengan banyak cara, seperti misalnya dalam Catur Marga Yoga : Empat jalan atau cara umat Hindu dalam upaya menuju Tuhan, dalam proses penyatuan dengan Brahman. 


Bisa melalui Jnana Marga Yoga : pengamalaman ilmu pengetahuan, atau Bakti Marga Yoga : persembahan bakti yang tulus kepada Tuhan dan umat manusia, dan kedua cara lainnya, seperti Raja Marga Yoga : melalui jalan spritual, dan Karma marga yoga : melalui jalan perbuatan baik yang tanpa pamrih.


Perjalanan dalam menuju Moksa atau mebayar hutang kita kepada para leluhur bisa juga kita laksanakan perjalanan suci atau biasa disebut Tirtha Yatra. 


Sering, kawan-kawan saya bertanya :


Teman : wayan, kamu gak ada ya ke Mekkah, kyk kami yang Muslim. Ya, sejenisnya sama gitu kayak kami yang menunaikan ibadah Haji ke Mekkah.


Saya : Ya, kami sebagai umat Hindu, tidak perlu jauh ke India, untuk melakukan perjalanan suci, bisa juga disekitaran kita, berkunjung ke tempat ibadah (pura) yang berada di luar tempat kami. itu namanya Tirtha Yatra. 


Satu pemahaman, yang kalau kita melihat umat Hindu ramai ke tempat-tempat suci yang jauh itu adalah sebuah perjalanan suci yang dipersembahan dalam sujud bhakti dan yadnya kepada Tuhan dan para Leluhur. 


Tujuan kesana (Tirtha Yatra) adalah dalam upaya bersujud kepada para Dewa/Dewi yang beristana disana, dan dalam doa kepada atman atau roh para leluhur yang telah terdahulu, agar atman bisa menyatu atau dalam kelahirannya kembali dapat beriekarnasi sebagai manusia.


Dalam buku Veda Sabda Suci Pedoman Praktis Kehidupan yang ditulis oleh I Made Titip pada halaman 246, menyarankan  agar pada saat melakukan perjalan suci atau tirtha yatra kita melaksanakan upawasa atau puasa, berjapa (melantumkan mantram mantram suci untuk penyucian diri, berdana punia (memberikan sumbangan), dan kegiatan kerohanian lannya. 


Berikut kutipan beberapa sloka dalam kitab suci :


RegVeda I.23.22


Artinya : Ya, Tuhan Yang Maha Esa Penguasa Air, Lenyapkan dan Sucikanlah Segala Kesalahan atau Dosa-dosa Kami, Meskipun Kami Telah Mengetahui Bahwa Perbuatan Itu Mesti Tidak Kami Lakukan atau Tidak Benar.


Sarasamuccaya 277-279


Artinya : Ada orang seperti ini prilakunya, tidak diliputi oleh kemarahan, benar-benar Ia satya, teguh pada Brata (janji diri), kasih dan sayang kepada semua mahluk dan meyakininya tidak berbeda dengan dirinya sendiri. 


Demikian yang selalu dirasakan. Orang yang demikian tingkah lakunya, pahala Tirtha yatra kelak diperolehnya nanti. Yang dimaksud Tirthayatra adalah berkeliling dengan niat suci mengjunjungi tempat untuk memperoleh air suci. 


Lanjutan, Inilah halangan orang yang tidak mengunjungi tempat-tempat suci (tempat diperolehnya air suci/tirtha), orang yang demikian seperti ini keadaanya : tidak berpuasa selama tiga malam berturut-turut.


Tidak mandi ditempat yang tersedia air suci, tidak memberikan sedekah emas, sedekah lembu, orang yang demikian keadaanya adalah orang yang benar-benar sangat miskin. 


Sebab keutamaan Tirthayatra, amat suci, lebih utama dari pada melaksanakan Yajna, dapat dilakukan oleh orang miskin.


Padma Purana : Adhaya 11


Artinya : Seseorang akan memperoleh keselamatan bila mampu mengendalikan badan, pikiran, pengetahuan, pertapaan dan kemasyhuran dengan pengontrolan diri. 


Ia yang hidup dengan kebersihan diri, tanpa egoisme dan memiliki ketekunan diri serta tidak pernah menerima pemberian atas jasa yang dilakukan untuk kebaikan memperoleh keselamatan yang merupakan pahala dari pelaksanaan Tirthayatra. 


Ia yang melakukan brata yaitu dengan tidak makan, Ia indranya terkendali, Ia akan memperoleh  keselamatan bila Ia melaksanakan Tirthayatra mengunjungi tempat suci. 


Seseorang yang memiliki kebaikan, bebas dari sifat marah dan kebencian, menyayangi semua mahluk seperti menyayangi diri sendiri, memperoleh keselamatan bila Ia melakukan Tirthayatra. 


Suatu hari Maharsi Chyavana menyatakan kepada Prahlada sebagai berikut : "Hanya mereka yang memiliki kesucian hati akan memperoleh pahala dari pelaksanaan Tirthayatra". (Vettam, 1989 : 790) (Sumber : Buku I Made Titib Purana Sumber Ajaran Hindu Komprehensip : 2010)


Sering kawan-kawan bertanya, kalau ada umat yang dari luar Bali saat akan berangkat ke Bali atau pergi ke Bali pasti di kira hanya sebatas liburan semata. Ternyata bukanlah itu, sebuah perjalanan suci yang dilakukan umat yang berada di luar Pulau Bali. 


Terkhusus yang berada di tanah rantau, pulang ke Bali, ya paling pas ada upakara atau mekarye atau acara keagamaan lainnya, baru bisa tedun atau pulang ke Bali. Namun, salah satu hal pentingnya adalah Tirthayatra. 


Catatan penting yang saya sampai saat mendapatkan wejangan dari Pak Dewa (Jakarta) yang pernah memberikan pentingnya sebuah perjalanan suci atau TirthaYatra. 


"Tirtha yatra yang kita laksanakan, nantinya kita sudah tercatat sebagai tamu di tempat suci tersebut, yang bagaimana, nantinya kita dapat melaksanakan pemujaan atau berdoa tanpa harus kesana lagi, cukup dengan menyebutkan nama pura tersebut, dan berdoalah sesuai keinginan kita," kata Pak Dewa. 


Jadi, bagi umat se-dharma jika sudah berkunjung ketempat suci tersebut, terus lah berdoa pada setiap kesempatan ketika kita sedang sembahyang. Mohon atau nunas paice dumogi rahayu. Astungkare.


*Maaf ya saya tidak hafal nama lengkap beliau.


Demikianlah pentingnya sebuah Tirtha Yatra atau perjalanan suci. Jangan lupa, lakukan doa atau mohon paica tersebut pada setiap kali sembahyang ya, karena saya sudah mencoba nya sendiri. 


Dan juga sebagai upaya dalam melaksanakan karma atau perbuatan yang menuju kepada Brahman. Tirtha yatra juga salah satu yang bisa kita laksanakan dengan sesuai kemampuan yang ada pada diri kita ya umat se-dharma.


*tempat suci juga berada pada sekitaran sungai, gunung, dan tempat-tempat yang suci lainnya.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama