Versi (2) : Sejarah Kelahiran Dewa Ganesha, Ini Kisahnya

Versi (2) : Sejarah Kelahiran Dewa Ganesha, Ini Kisah Nyatanya


Sanatana Info - Kelahiran Dewa Ganesha. Banyak versi yang menarasikan Dewa dengan Berkepala Gajah tersebut. 


Sebagai Dewa Pelindung dan Penjaga serta menghilangkan marabahaya. Saya dari SMA sudah menerapkan doa Ganesha setiap awal saja mau berpergian kemana pun itu. 


Doanya mudah diingat dan simpel, Om Gam Ganapatayae Namaha yang artinya Om Tuhan Semoga perjalanan hamba tanpa suatu rintangan. 


Bagi saja itu saja sudah cukup untuk kita berdoa memohon keselamatan baik rohani maupun duniawi.


Sebelumnya saja sudah menuliskan artikel tentang Kelahiran Dewa Ganesha menurut Kakawin Smaradahana. 


Baca disini : Versi (1) : Kelahiran Dewa Ganesha, Begini Kisahnya


Kitab Siva Purana


Dalam Kitab Siva Purana, kita akan mengetahui munculnya Dewa Ganesha, yang memang agak sedikit berbeda dalam Kakawin Smaradahana.


Dinyatakan dalam Purana, sebuah wilayah suci yang sangat indah, dengan banyak pohon pinus yang membawa aroma menenangkan dan memancarkan sebuah fibrasi kesejukan. 


Sebuah tempat dimana salju turun dan lembutnya serta menumpuk dibeberapa bebatuan hingga membentuk satu pemandangan yang mengesankan di hati.


Cahaya surya yang kemerahan, menerpa salju itu dan membuat berkilauan layaknya permata utama yang bertebaran menjadi pemadani halaman yang memukau. 


Sepanjang jalannya sangat banyak sekali bebatuan kecil dan tersusun rapi, seolah olah menjadi pembatas antara salju dengan jalan setapak.


Itulah wilayah yang disebut Gunung Kailasa. Sebuah tempat yang diidamkan oleh banyak muni dan pertapa. Sebuah wilayah dimana para pemuja Siwa. 


Para pandita, viprah, dan guru-guru mulia, mengidam-idamkan tempat tersebut sebagai satu wilayah keabadian.


Disanalah penguasa jagatraya di puja dengan nama Sang Hyang Sankara, Beliau adalah raja di raja para Dewata, penguasa seni dan menjadi esensi utama setiap ritual pasupati. 


Di puja dengan nama Sambhu, yang menjadi permurah bagi setiap yang berbhakti. Ia dipuja dengan nama Mahadewa. sebagai penguasa alam kedewataan yang luhur diantara yang lain. 


Beliau memiliki permaisuri yang maha luar biasa bernama Bhatari Parwati. Bhatara Siwa adalah Dewata Agung dan Beliau memiliki banyak abdi dan juga pelayan yang sangat setia. 


Salah satunya pengawal Beliau adalah Nandi dan Brnggi. Kemana pun Bhatara Siwa pergi pasti akan ada mereka berdua untuk mengawal Beliau. 


Lain halnya dengan Bhatari Parwati yang tidak memiliki pengawal. Oleh sebab itulah, Bhatari Parwati menginginkan seorang pelayan dan juga pengawal yang dapat secara pribadi menjaga kemanapun Bhatari Parwati pergi.


Kemudian, diambilah tanah liat oleh Bhatari Parwati, dibentuklah sedemikian rupa menjadi seperti seorang naka kecil yang berbadan besar dan memiliki wajah yang tampan. 


Karena yang membuat adalah Dewi Parwati maka tentu saja hasilnya sempurna. Roma mukanya sangat sejuk dan memiliki  sebuah kharisma yang luar biasa.


Patung tanah liat tersebut diberikan pakaian Dewata yang sangat mewah. Lengkap dengan wewanginan yang harum. 


Kemudian, setelah dirasa cukup, maka Bhatari Parwati meniupkan nafas pada patung tersebut dan hasilnya, menjadi hidup bahkan memiliki kekuatan yang tiada tandingnya, sebab mendapatkan langsung anugerah dari Hyang Mahadewi.


Anak illahi itu diberinama Ganesha. Kemudian, Ganesha diberi anugerah senjata aneka warna oleh Bhatari Parwati. Mahadewi pun bersabda :


"Wahai Ganesha, Engkau adalah putra-Ku sekarang. Sekarang Ibu memberikan kepada diri-Mu senjata yang sangat luar biasa dan perkasa guna menjaga ibu. Sekarang, Engkau diamlah didepan pintu istana Kailasa, ibu akan pergi mandi menyucikan diri. Perintah ibu jangan biarkan orang masuk selagi ibu mandi".


Demikianlah sabda Mahadewi Parwati kepada putranya Ganesha. Anugerah kekuatan dan kesaktian diberikan untuk Ganesha dengan berbagai macam warna. Lengkap dengan kesaktian yang maha luar biasanya.


Setelah itu langsunglah Ganesha melaksanakan tugasnya untuk menjada Mahadewi Parwati, yakni menjadi penjaga pintu Kailasa.


Setelah waktu berlalu, namun Dewi Parwati belum juga selesai mesucian. Ketika, itulah datang Sang Hyang Siwa, diiringi oleh abdi Beliau, Nandi dan Brnggi. Paduka Bhatara Siwa langsung melewati pintu Kailasa.


Ganesha yang tidak mengetahui bahwa Siwa adalah penguasa jagatraya, maka dengan segala dan penuh sikap sigap, Ganesha pun menjegah Siwa dan tidak memberikan izin untuk masuk ke wilayah Gunung Kailasa.


Melihat sikap Ganesha yang demikian, maka majulah Nandi dan Brnggi untuk menyatakan bahwa penguasa jagatraya hendak menuju singgasana Beliau. 


Namun, Ganesha tidak memberikan izin dan terjadilah pertengkaran. Disana, kemudian Ganesha bersabda :


"Siapapun yang datang kesini, tidak boleh masuk. Itu adalah perintah dari yang mulia Ibu-Ku. Jadi, sekarang sebaiknya kalian cepat pergi dari sini. Atau jika tidak, maka kalian akan berhadapan dengan Ku sekarang".


Ancaman tersebut memang kuat, dan ini membuat Nandi dan Brnggi kewalahan untuk menghadapi Ganesha.


Maka mereka kemudian mengeluarkan kesaktian untuk melumpuhkan Ganesha. Namun, usaha itu gagal, sebab tidak ada satupun senjata Nandi dan Brnggi menmpa di hadapan Ganesha.


Mereka berdua berlari menghadap Sang Hyang Siwa, dan melaporkan kejadian tersebut. Keributan makin menjadi-jadi ketika Ganesha melepaskan beberapa senjata saktinya. 


Hadirlah seluruh Dewata yang bersemayam di Siddha Loka karena keributan tersebut. Para Dewata menenangkan keributan tersebut.


Namun Ganesha tidak gentar. Tetap berdiri kokoh  melindkungi pintu jaga tersebut. Bahkan Dewa Brahma tidak dapat menandingi kesaktian Ganesha.


Kemudian, disusunlah sebuah taktik untuk dapat mengalahkan Ganesha, para Dewata bertarung dengan Ganesha, ketika sedang bertarung, maka disanalah pasukan Bhatara Siwa melepaskan senjata Beliau yakni Trisula.


Saat itu juga kepala dari Ganesha terpenggal putus, dan Ganesha langsung berteriak "Ibu...ibu...tolong...ibu" teriakan itu langsung didengar oleh Dewi Parwati, dan langsung datang ke tempat keributan untuk melihat Ganesha.


Parwati yang melihat putranya tergeletak dengan kepala terpenggal, maka Beliau marah, dan merubah wujudnya menjadi Maha Durga dan dengan api yang menyala-yala, Beliau hendak menelan jagatraya ciptaan Brahma.


Seluruh alam bergentar dengan kemarahan Durga, langsunglah seluruh Para Dewata meminta maaf kepada Mahadewi Durga/Parwati, agar marah Beliau reda dan dunia aman kembali. Dengan syarat para Dewata berjanji dan melakukan pujian kepada Dewi Durga.


Inilah ibu dari alam semesta atau ibu dari jagatraya


Permasalahannya sekarang adalah Dewi Durga berada dalam kapasitas untuk menghancurkan bumi dan alam semesta. Dilakukanlah pujian pujian Dewi Durga. 


Seluruh penghuni Siddha Loka, golongan Gandharwa yang ada di Amaravati juga ikut melantumkan pujian kepada Durga.


Barulah dengan pujian yang tulus, kemudian Dewi Durga reda marahnya dan menjadi kecil api kemarahannya. 


Lalu, Beliau kembali pada wujudnya yakni Dewi Parwati. Dengan syarat bahwa Putra Kesayangannya Ganesha hidup kembali.


Maka seluruh para Dewata memberikan anugerah kepada Ganesha agar dapat hidup kembali. Kemudian, kedudukan Ganesha disamakan dengan atau disejajarkan dengan para Dewata. 


Dan munculah pemujaan kepada Ganesha wajib, ketika hendak melakukan pemujaan kepada Dewa Siwa. 


Sayangnya, kepala Ganesha yang sudah terpenggal oleh Trisula Dewa Siwa, maka pengganti kepala Ganesha adalah mahluk yang pertama kali ditemukann sebagai ganti kepala Ganesha. 


Karena yang ditemukan pertama kali adalah seekor gajah dengan taring satu, maka itulah yang dipergunakan sebagai kepala Ganesha. 


Sejak saat itulah, Dewa Ganesha terkenal dengan berkepala Gajah dan bergading satu yang perkasa.


Gading yang patah juga menjadi sebuah narasi yang berbeda-beda, karena ada yang mengatakan bahwa gading Beliau tidak patah, dan ada juga yang mengatakan gading Beliau patah.


Narasi itu ada pada teks Hindu Kuno yang namanya adalah Maharesi Parasurama yang diyakini sebagai inkarnasi Dewa Wisnu, yang menjelma untuk menegakkan kebenaran, dan melakukan evolusi terhadap kauk ksatria.


Nantikan, ulasan mengenai Maharesi Parasurama !


Sumber Bacaan : Sang Hyang Ganesha oleh Gede Agus Budi Adnyana, S.Pd.B

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama